Tesla vs BYD: Raja Mobil Listrik Ganti, Tapi Kenapa Harga Saham Tesla Masih ‘To the Moon’? (Analisis 2026)

Konten ini disusun melalui Sistem Hibrida Ahli-AI dan diverifikasi melalui Red Team Protocol kami.
Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di Deloitte Consulting, Samsung, dan berbagai lembaga keuangan, saya berbagi informasi dan berpikir bersama Anda mengenai kekhawatiran di bidang Keuangan, Karier, dan Kehidupan.

Bayangkan Budi, seorang akuntan berusia 35 tahun yang bekerja di kawasan SCBD, Jakarta. Di tengah kekhawatiran posisinya terancam oleh AI, Budi mencoba membangun ‘passive income’ dengan menabung saham Tesla sejak 2023 lewat aplikasi investasi saham AS. Pagi ini, 12 Januari 2026, ia membaca berita mengejutkan di ponselnya saat menaiki taksi listrik Bluebird (yang kebetulan adalah BYD): “BYD Resmi Kalahkan Tesla sebagai Penjual Mobil Listrik Terbesar Dunia di 2025”. Budi panik, mengira portofolionya akan merah membara. Namun, saat membuka aplikasi, ia bingung: Saham Tesla (TSLA) justru anteng di angka $445,01. Mengapa perusahaan yang kehilangan pangsa pasar justru dihargai 15 kali lebih mahal dari sang pemenang? Apakah ini gelembung yang siap pecah, atau ada ‘harta karun’ tersembunyi yang dilihat investor institusi? Artikel ini akan membedah anomali tersebut dan strategi apa yang harus diambil investor Indonesia di tahun 2026.

Tesla vs BYD: Raja Mobil Listrik Ganti, Tapi Kenapa Harga Saham Tesla Masih 'To the Moon'? (Analisis 2026)

1. Fakta Data 2025: Mahkota Raja Telah Berpindah

Mari kita bicara data, bukan perasaan. Selama bertahun-tahun, “Mobil Listrik” identik dengan Tesla. Namun, data final tahun 2025 yang dirilis Januari 2026 ini mengubah sejarah otomotif dunia secara permanen.

1.1 Dominasi Angka BYD

BYD menutup tahun 2025 dengan penjualan global mencapai 2,26 juta kendaraan listrik murni (BEV), jauh meninggalkan Tesla yang hanya mencatat 1,64 juta unit. Di jalanan Jakarta, fenomena ini nyata. Kita melihat semakin banyak BYD Seal, Atto 3, dan Dolphin berseliweran, sementara Tesla masih menjadi barang mewah yang jarang terlihat. Bagi Tesla, angka 1,64 juta ini adalah penurunan sekitar 9% dibanding tahun sebelumnya (Year-on-Year). Hilangnya subsidi pemerintah AS dan sentimen negatif terhadap Elon Musk membuat konsumen di Barat mulai melirik opsi lain.

1.2 BYD dan Pasar Berkembang

Kemenangan BYD bukan keberuntungan. Dengan menguasai rantai pasok dari tambang litium hingga baterai, BYD mampu menekan harga ke level yang tidak masuk akal bagi kompetitor. Di Indonesia dan pasar Asia Tenggara lainnya, BYD menawarkan mobil canggih dengan harga setara mobil bensin (ICE), strategi yang gagal dijalankan Tesla dengan Model 2 yang tertunda.

READ  Outlook Suku Bunga Fed 2026: Mengapa Pemangkasan Januari Batal dan 3 Saham Unggulan
Indikator Tesla (Mantan Raja) BYD (Raja Baru) Artinya bagi Investor
Penjualan BEV 2025 1,64 Juta (Turun) 2,26 Juta (Naik Pesat) Pertumbuhan volume ada di China & Emerging Market.
Mesin Pertumbuhan Robotaxi & AI Ekspor Global & Hibrida Tesla jual ‘mimpi’, BYD jual ‘barang’.
Posisi di Indonesia Niche / Impor Umum Mass Market / CKD BYD lebih relevan dengan ekonomi riil saat ini.

2. Misteri Valuasi: PER 300x vs 21x

Di sinilah Budi merasa bingung. Jika BYD menang telak, mengapa harga sahamnya “murah” (PER 21x), sementara Tesla yang penjualannya turun justru “mahal” (PER 300x)?

2.1 Tesla Adalah Perusahaan Data, Bukan Mobil

Pasar saham tidak bodoh, tapi cara pandangnya berbeda. Wall Street saat ini tidak menilai Tesla sebagai pabrik mobil (seperti Astra atau Toyota), melainkan sebagai raksasa AI (seperti Nvidia). Harga $445 per lembar mencerminkan keyakinan bahwa 1,64 juta mobil Tesla di jalanan bukanlah sekadar alat transportasi, melainkan “robot pengumpul data” untuk melatih kecerdasan buatan mereka (FSD). Investor membayar mahal untuk potensi monopoli taksi otonom di masa depan.

2.2 Diskon Geopolitik BYD

Sebaliknya, BYD terkena “China Discount”. Meskipun profitabilitasnya luar biasa, investor global khawatir dengan perang dagang, tarif impor Eropa/AS, dan ketidakpastian regulasi. Saham BYD (1211.HK) di bursa Hong Kong dihargai selayaknya perusahaan manufaktur tradisional yang rentan terhadap risiko politik, bukan sebagai perusahaan teknologi.

Emiten (Ticker) Harga (12 Jan 2026) PER (Rasio Laba) Logika Pasar
Tesla (TSLA) $445.01 306.90x Valuasi Teknologi: “The Next AI Superpower”.
BYD (1211.HK) HK$94.50 21.60x Valuasi Pabrik: “Bagus, tapi risiko China tinggi”.
Astra Int. (ASII) Variabel ~6-8x Valuasi Konvensional: “Dividen player”.

3. Pertaruhan Tesla: Bukan Lagi Penjual Mobil

Tahun 2026 adalah tahun pertaruhan hidup-mati bagi valuasi Tesla.

3.1 April 2026: Momen Penentuan Cybercab

Satu-satunya alasan saham Tesla bertahan di $445 adalah janji peluncuran produksi “Cybercab” (Robotaxi) pada April 2026. Jika Tesla berhasil meluncurkan armada taksi tanpa supir yang bisa menghasilkan uang sendiri, penurunan penjualan mobil pribadi tidak akan lagi relevan. Model bisnisnya akan berubah dari jual-putus menjadi langganan (SaaS). Namun, jika terjadi penundaan atau masalah regulasi, saham ini bisa terjun bebas karena tidak ada “fundamental penjualan mobil” yang menopangnya.

READ  Robot Hantu Seharga 5.000 Tahun Gaji: Mengapa Investor Ritel Harus Waspada

3.2 Robot Humanoid dan Energi

Selain mobil, divisi energi Tesla (Megapack) tumbuh tiga kali lipat, dan robot Optimus mulai dihitung dalam valuasi jangka panjang. Ini membuat Tesla lebih mirip perusahaan inkubator teknologi masa depan daripada sekadar produsen kendaraan.

4. Strategi Cuan untuk Investor Indonesia

Lantas, apa yang harus dilakukan investor ritel Indonesia? Apakah harus FOMO beli Tesla atau main aman?

4.1 Sesuaikan dengan Profil Risiko

Jika Anda adalah investor agresif yang percaya AI akan mengubah dunia, memegang Tesla (atau membelinya saat koreksi) adalah opsi logis untuk jangka panjang (5-10 tahun). Namun, ingatlah bahwa volatilitasnya akan sangat tinggi. Jika Anda tipe konservatif yang lebih suka tidur nyenyak, hindari menaruh porsi besar di Tesla pada harga $445. Valuasi ini tidak memaafkan kesalahan sedikitpun.

4.2 Alternatif Investasi: ETF dan Diversifikasi

Bagi investor Indonesia yang menggunakan platform saham AS, cara paling bijak adalah membeli “keranjang”-nya, bukan satu telurnya. ETF seperti DRIV (Autonomous & Electric Vehicles) atau SOXX (Semiconductor) memberikan eksposur ke Tesla, BYD, dan juga produsen chip yang menyuplai keduanya. Dengan cara ini, siapa pun yang menang dalam perang EV, portofolio Anda tetap tumbuh. Selain itu, jangan lupakan diversifikasi ke aset lokal (IHSG) atau emas sebagai penyeimbang risiko mata uang.

Referensi Data

  • Bloomberg, “Tesla Is Finally Toppled by BYD as EV King”, 2026
  • Investing.com, “Real-time Market Data for TSLA, BYD, US10Y”, 12 Jan 2026
  • Zacks Investment Research, “Tesla EV Deliveries Slide in 2025”, 2026
  • Morningstar, “Laporan Ekuitas BYD Company Ltd (1211.HK)”, 2026

Penyangkalan (Disclaimer)

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi jual/beli saham. Investasi saham, terutama di bursa luar negeri, memiliki risiko tinggi termasuk fluktuasi mata uang. Lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan finansial.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top